Perjalanan Dramatis TON Coin dari Proyek Telegram hingga Web3

perjalanan dramatis ton coin dari proyek telegram hingga web3

Semuanya bermula pada akhir tahun 2017 ketika Pavel dan Nikolai Durov, pendiri aplikasi pesan instan Telegram yang sangat populer mulai merancang sebuah infrastruktur blockchain yang mampu menangani skala pengguna massal. Mereka menyadari bahwa meskipun Bitcoin dan Ethereum telah membuka jalan bagi desentralisasi, keduanya masih menghadapi kendala besar dalam hal kecepatan transaksi dan skalabilitas untuk digunakan oleh ratusan juta orang secara bersamaan. Dengan dasar pemikiran tersebut, lahirlah konsep Telegram Open Network (TON) yaitu sebuah proyek ambisius yang bertujuan untuk mengintegrasikan layanan keuangan terdesentralisasi langsung ke dalam antarmuka Telegram.

Pada awal tahun 2018, antusiasme terhadap proyek ini mencapai puncaknya ketika Telegram meluncurkan salah satu Initial Coin Offering (ICO) terbesar dalam sejarah kripto. Melalui dua putaran penjualan privat, proyek ini berhasil mengumpulkan dana sebesar 1,7 miliar dolar AS dari investor global terkemuka. Dana fantastis ini dialokasikan untuk mengembangkan sistem multi-blockchain yang sangat canggih, yang menggunakan arsitektur sharding dinamis untuk memastikan jaringan tetap cepat meskipun beban kerjanya meningkat. Token asli dari jaringan ini pada awalnya dinamai Gram, yang diproyeksikan menjadi mata uang digital utama di dalam ekosistem Telegram, memungkinkan pengguna untuk mengirim uang semudah mengirim pesan teks. Nikolai Durov, yang merupakan otak di balik protokol MTProto milik Telegram, merancang teknis TON dengan pendekatan yang sangat matematis, menciptakan struktur masterchain dan workchains yang mampu memproses jutaan transaksi per detik.

Namun, perjalanan menuju peluncuran resmi tidak berjalan mulus. Pada Oktober 2019, hanya beberapa minggu sebelum jadwal peluncuran mainnet yang direncanakan, Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) melayangkan tuntutan hukum mendadak terhadap Telegram. SEC berargumen bahwa penjualan token Gram merupakan penawaran sekuritas yang tidak terdaftar, sehingga melanggar hukum federal Amerika Serikat. Langkah hukum ini menjadi rintangan besar karena pengadilan AS mengeluarkan perintah penahanan sementara yang melarang distribusi Gram. Selama berbulan-bulan, Telegram berjuang di meja hijau, berargumen bahwa Gram adalah komoditas atau utilitas, bukan sekuritas. Namun, pada awal 2020, hakim federal berpihak pada SEC, yang secara efektif mematikan peluang peluncuran proyek tersebut di bawah bendera resmi Telegram.

Puncaknya terjadi pada Mei 2020, ketika Pavel Durov secara resmi mengumumkan bahwa Telegram menghentikan keterlibatannya dalam proyek TON. Dalam surat perpisahan yang emosional, Durov mengkritik sistem hukum Amerika Serikat yang dianggapnya terlalu intervensionis terhadap inovasi teknologi global. Sebagai bagian dari penyelesaian dengan SEC, Telegram setuju untuk membayar denda sebesar 18,5 juta dolar AS dan mengembalikan dana sisa investor sebesar 1,22 miliar dolar AS. Pada titik ini, banyak pengamat industri menganggap bahwa proyek TON telah berakhir dan akan menjadi catatan kaki dalam sejarah kegagalan blockchain akibat tekanan regulasi. Namun, karena kode sumber TON bersifat open-source, warisan teknologi ini tidak benar-benar mati.

Tak lama setelah mundurnya Telegram, beberapa kelompok pengembang independen mulai mengambil alih kode sumber tersebut. Muncul dua faksi utama, yaitu komunitas Free TON dan tim yang menamakan diri mereka NewTON. Tim NewTON, yang kemudian berganti nama menjadi TON Foundation, memilih untuk melanjutkan visi asli proyek tersebut tanpa mengubah struktur fundamentalnya. Mereka berfokus pada pemeliharaan testnet yang telah dibangun sebelumnya oleh tim Telegram. Selama tahun 2020 dan 2021, para pengembang sukarela ini bekerja tanpa lelah untuk menyempurnakan infrastruktur, memperbaiki bug, dan memastikan jaringan siap untuk peluncuran mandiri. Di sisi lain, mereka juga mengganti nama aset digitalnya dari Gram menjadi Toncoin (TON) untuk membedakan diri dari masa lalu yang kontroversial secara hukum.

Perubahan haluan yang signifikan terjadi ketika Pavel Durov secara terbuka memberikan dukungannya kepada tim TON Foundation pada akhir tahun 2021. Ia menyatakan kekagumannya terhadap bagaimana komunitas berhasil menjaga semangat teknologi TON tetap hidup dan menegaskan bahwa proyek ini sekarang sepenuhnya independen dari Telegram secara struktural, meskipun tetap membawa semangat yang sama. Dukungan ini memberikan suntikan kepercayaan diri yang besar bagi pasar. Sejak saat itu TON Coin mulai bertransformasi dari sekadar proyek komunitas menjadi ekosistem yang berkembang pesat. Integrasi secara bertahap mulai terlihat kembali di aplikasi Telegram, namun kali ini melalui bot pihak ketiga dan dompet digital non-custodial yang dibangun oleh pengembang independen, menghindari konflik langsung dengan regulator karena Telegram tidak lagi bertindak sebagai penerbit token.

Memasuki tahun 2022 dan 2023, ekosistem TON mengalami pertumbuhan eksponensial. TON Foundation meluncurkan berbagai inisiatif, termasuk TON Storage yang memungkinkan penyimpanan data terdesentralisasi, TON DNS yang menyederhanakan alamat dompet yang rumit menjadi nama yang mudah dibaca, serta TON Proxy untuk meningkatkan privasi pengguna. Arsitektur jaringan yang sejak awal dirancang untuk skala besar akhirnya mulai menunjukkan taringnya. Kecepatan transaksi yang luar biasa rendah biayanya membuat TON menjadi pilihan menarik bagi pengembang aplikasi terdesentralisasi (dApps). Salah satu pencapaian terbesar dalam periode ini adalah peluncuran "Telegram Wallet" yang terintegrasi secara mulus di dalam menu pengaturan aplikasi Telegram bagi pengguna global, memungkinkan adopsi massal yang belum pernah terlihat di blockchain lainnya.

Berbeda dengan banyak koin modern yang menggunakan sistem penambangan sejak awal, Toncoin didistribusikan melalui skema "Initial Proof-of-Work Givers" setelah Telegram mundur. Artinya, meskipun jaringan menggunakan mekanisme konsensus Proof-of-Stake untuk validasi transaksi, koin-koin awal harus "ditambang" dari smart contract khusus hingga stoknya habis pada tahun 2022. Hal ini dilakukan untuk memastikan distribusi yang lebih adil dan mencegah konsentrasi kepemilikan di tangan segelintir entitas besar, yang seringkali menjadi kritik utama terhadap proyek kripto yang didukung modal ventura. Proses penambangan yang unik ini berakhir pada Juni 2022, menandai transisi penuh TON menjadi jaringan Proof-of-Stake murni yang sepenuhnya beroperasi secara berkelanjutan.

Pada tahun 2024 hingga saat ini, TON telah memantapkan posisinya sebagai salah satu dari sepuluh aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar. Visi asli untuk menciptakan "Super App" di mana pengguna dapat mengobrol, bermain game, dan bertransaksi dalam satu ekosistem mulai menjadi kenyataan. Munculnya tren game "Play-to-Earn" berbasis mini-app di Telegram, seperti Notcoin dan proyek-proyek serupa, membawa jutaan pengguna baru ke dalam on-chain TON hanya dalam hitungan minggu. Fenomena ini membuktikan bahwa hambatan utama adopsi kripto bukanlah teknologinya, melainkan kemudahan akses, dan TON melalui integrasi Telegram telah berhasil meruntuhkan tembok tersebut. Keberhasilan ini juga memicu minat dari institusi keuangan besar dan bursa kripto global untuk mendukung likuiditas TON secara masif.