Kisah Anjar Prayoga dan Impian NFT yang Tak Pernah Terjual

Kisah Anjar Prayoga dan Impian NFT yang Tak Pernah Terjual

Di awal tahun 2022 jagat maya Indonesia diguncang oleh sebuah fenomena yang sulit dicerna oleh akal sehat namun begitu nyata di depan mata. Seorang pemuda bernama Sultan Gustaf Al Ghozali, atau yang lebih dikenal dengan julukan Ghozali Everyday, meraup miliaran rupiah hanya dengan menjual foto selfie dirinya di platform marketplace Non-Fungible Token (NFT), OpenSea.

Berita ini menyebar bak api di padang rumput kering. Tiba-tiba, semua orang membicarakan *cryptocurrency*, Web3, dan NFT. Di antara jutaan mata yang berbinar melihat kesuksesan instan tersebut, ada sepasang mata milik Anjar Prayoga.

Anjar adalah pemuda biasa berusia dua puluhan, seorang karyawan swasta di Jakarta yang setiap hari berdesakan di Transjakarta. Gajinya hanya cukup untuk kebutuhan hidup, namun jauh dari kata cukup untuk membeli rumah impian atau mobil mewah. Ketika Anjar melihat wajah datar Ghozali di layar ponselnya, lengkap dengan nominal miliaran rupiah di sebelahnya, sebuah tombol di kepalanya seolah ditekan.

"Kalau anak kuliahan yang cuma modal selfie datar begitu saja bisa kaya raya, kenapa aku tidak?" batin Anjar saat itu. Ini adalah awal mula dari sebuah petualangan digital yang dipenuhi harapan besar, namun pada akhirnya berujung pada realitas yang menampar.

Sindrom Fear Of Missing Out (FOMO)

Didorong oleh rasa takut tertinggal (Fear Of Missing Out), Anjar mulai meriset tentang dunia NFT. Ia yang sebelumnya tidak tahu menahu soal blockchain, mendadak rajin menonton tutorial YouTube tentang cara membuat wallet kripto seperti MetaMask, cara menjembatani (bridging) jaringan, hingga cara melakukan minting (pencetakan) aset digital di OpenSea.

Anjar yakin bahwa kunci kesuksesan Ghozali adalah konsistensi dan kuantitas. Karena ia tidak punya waktu lima tahun untuk mengumpulkan selfie seperti Ghozali, Anjar memutuskan untuk mengambil jalan pintas. Selama akhir pekan penuh, ia mengurung diri di kamarnya. Menggunakan ponsel pintar miliknya, ia mengambil ratusan foto wajahnya sendiri.

Agar terlihat berbeda, Anjar menggunakan berbagai properti seadanya seperti foto dengan topi kebalik, foto memakai kacamata hitam di dalam kamar yang gelap, foto sedang sikat gigi, hingga foto dengan wajah dilumuri bedak bayi. Ia menamai koleksinya: "Anjar The Ordinary Guy".

Sindrom Fear Of Missing Out (FOMO)

"Ini pasti laku," gumamnya penuh percaya diri sambil mengunggah foto-foto tersebut satu per satu.

Ia menuliskan deskripsi dalam bahasa Inggris yang terbata-bata, berharap kolektor bule atau sultan kripto lokal akan meliriknya. Ia mematok harga yang menurutnya masuk akal, sekitar 0.001 ETH per foto, berharap volume penjualan yang besar akan membuatnya kaya.

Menunggu Durian Runtuh yang Tak Kunjung Jatuh

Setelah proses minting yang melelahkan dan sedikit menguras kantong karena ia awalnya salah memilih jaringan Ethereum yang biaya gas fee-nya selangit sebelum akhirnya pindah ke jaringan Polygon yang lebih murah. Ratusan NFT wajahnya akhirnya kini terpajang di etalase marketplace terbesar di dunia maya.

Hari pertama, ia merefresh halaman OpenSea miliknya setiap lima menit. Angka volume traded masih menunjukkan angka nol yang bulat sempurna.

"Mungkin butuh waktu," pikirnya.

Ia mulai melancarkan strategi pemasaran. Anjar membuat akun Twitter (kini X) khusus dan bergabung dengan puluhan server Discord komunitas NFT. Setiap hari, sepulang kerja, ia melakukan spamming di kolom komentar tokoh-tokoh kripto terkenal, para artis, hingga influencer yang pernah membeli NFT Ghozali.

> "Please buy my NFT! I want to change my life like Ghozali! LFG! #NFTCommunity #AnjarEveryday"

Begitulah cuitan yang ia salin-tempel ratusan kali. Namun, balasan yang ia dapatkan hanyalah kesunyian, atau paling banter, akun bot yang memintanya untuk mengirim pesan langsung (DM) untuk jasa promosi berbayar penipuan.

Menabrak Tembok Realitas

Minggu berganti bulan. Kehebohan NFT di Indonesia mulai mereda. Artis-artis yang sebelumnya gencar mempromosikan token dan NFT mereka satu per satu mulai bungkam ketika harga kripto anjlok secara global. Memasuki fase yang disebut sebagai Crypto Winter, volume transaksi di OpenSea terjun bebas.

Sementara itu koleksi "Anjar The Ordinary Guy" masih kokoh dengan nol penjualan. Tidak ada satu pun transaksi. Bahkan, sekadar likes atau favorites di platform tersebut hanya berasal dari akun alternatif yang ia buat sendiri.

Perlahan Anjar mulai menyadari kebenaran yang pahit. Ia mulai memahami bahwa fenomena Ghozali Everyday adalah sebuah anomali, sebuah Black Swan event dalam dunia kripto lokal. Kesuksesan Ghozali bukan semata-mata karena fotonya, melainkan karena narasi di baliknya. Konsistensi luar biasa selama lima tahun penuh, yang kemudian ditemukan dan dipompa (pump) oleh komunitas figur publik dan kolektor besar yang sedang mencari hiburan meme baru.

Setelah Ghozali, pasar sudah lelah dengan konsep foto selfie orang biasa. Ratusan bahkan ribuan orang di Indonesia mencoba meniru Ghozali, mulai dari menjual foto KTP, foto makanan, hingga foto perabotan rumah, dan hampir semuanya gagal total karena tidak ada nilai guna (utility) atau seni (art) yang nyata di baliknya.

Anjar terjebak dalam ilusi bahwa NFT adalah mesin pencetak uang ajaib. Ia lupa bahwa di balik setiap karya digital yang terjual mahal, seringkali ada komunitas yang kuat, utilitas yang jelas, atau nilai artistik yang diakui. Menjual foto selfie tanpa personal branding, komunitas, atau nilai tambah ibarat mencoba menjual batu kerikil di pinggir jalan dengan harga berlian hanya karena pernah ada satu orang yang secara ajaib berhasil melakukannya.

Pelajaran dari Etalase Kosong

Kini bertahun-tahun setelah euforia itu berlalu, Anjar kadang masih tertawa kecil jika membuka wallet MetaMask-nya. Di sana di dalam brankas digitalnya, ratusan wajahnya dengan berbagai ekspresi aneh masih tersimpan rapi, menjadi fosil digital dari sebuah era di mana orang-orang percaya bahwa apa saja bisa diubah menjadi uang.

Pelajaran dari Etalase Kosong

Pengalaman pahit ini menjadi guru terbaik bagi Anjar. Ia belajar banyak hal yang jauh lebih berharga daripada sekadar cuan instan.

1. Memahami Literasi Keuangan: Anjar menyadari bahaya dari berinvestasi atau menghabiskan waktu pada aset spekulatif yang tidak sepenuhnya ia pahami fondasinya.

2. Kekuatan Proses: Kesuksesan instan adalah mitos. Bahkan Ghozali, terlepas dari faktor keberuntungannya, menghabiskan lima tahun untuk sekadar konsisten memotret dirinya.

3. Pentingnya Keterampilan Nyata: Alih-alih mengejar tren (get-rich-quick) yang fana, Anjar kini mulai menginvestasikan waktunya untuk hal yang lebih produktif. Ia mengambil kursus analisis data online untuk meningkatkan karirnya di kantor.

Kegagalan Anjar Prayoga bukanlah kisah yang memalukan. Ini adalah potret realitas dari ribuan orang yang pernah terbuai oleh manisnya janji Web3, sebelum akhirnya disadarkan oleh hukum ekonomi fundamental 'bahwa tidak ada nilai yang tercipta dari ketiadaan'. Sesuatu berharga karena ada permintaan (demand) dan nilai (value), bukan sekadar karena diubah formatnya menjadi token digital.

Meskipun NFT dari foto pribadinya memang tidak pernah terjual, namun pengalaman itu telah membuka kesadaran baru bagi Anjar. Bahwa satu-satunya cara yang paling masuk akal dan berkelanjutan untuk mengubah hidup bukanlah dengan berharap selfie-nya dibeli oleh miliarder tak dikenal, melainkan dengan meningkatkan kualitas dan kapasitas dirinya sendiri di dunia nyata.


*Gambar hanyalah ilustrasi yang mencerminkan pengalaman yang nyata*