Jed McCaleb adalah pendiri utama Ripple yang bercita-cita membangun protokol pembayaran global yang efisien dan cepat. Namun, seiring berjalannya waktu, perbedaan filosofis yang tajam muncul antara McCaleb dengan dewan direksi Ripple lainnya mengenai tata kelola perusahaan, strategi distribusi koin, dan fokus pasar. McCaleb menginginkan sebuah platform yang lebih terbuka dan berfokus pada inklusi keuangan bagi individu, sementara Ripple mulai bergerak lebih agresif menuju solusi perbankan institusional yang tertutup.
Perselisihan ini memuncak pada keputusan McCaleb untuk hengkang dan mendirikan sesuatu yang sepenuhnya baru, sebuah proyek yang diharapkan dapat memenuhi janji awal teknologi blockchain yaitu memberikan akses finansial kepada siapa saja, di mana saja, tanpa hambatan birokrasi yang mahal.
Bersama dengan Joyce Kim, seorang mantan pengacara dan modal ventura yang memiliki kepedulian tinggi terhadap masalah sosial, McCaleb merancang Stellar yang resmi diluncurkan pada Juli 2014 melalui sebuah organisasi nirlaba yang dinamakan Stellar Development Foundation (SDF). Pendirian SDF sebagai entitas non-profit adalah pernyataan politik dan etis yang kuat di tengah maraknya proyek-proyek kripto yang didorong oleh motif keuntungan murni.
Pada awal peluncurannya, kode sumber Stellar sebenarnya merupakan percabangan atau fork dari protokol Ripple yang sudah ada. Namun, penggunaan basis kode lama ini segera menemui kendala teknis yang serius ketika jaringan Stellar mengalami masalah konsensus yang menyebabkan terjadinya ketidakkonsistenan buku besar (ledger). Hal ini memicu kesadaran mendalam di kalangan pengembang bahwa arsitektur yang diwarisi dari Ripple tidak cukup kuat untuk menopang visi jangka panjang Stellar yang mengedepankan keamanan dan desentralisasi yang lebih luas.
Sebagai respons atas kegagalan teknis tersebut, tim pengembang Stellar mengambil langkah berani dengan memutuskan untuk membangun ulang seluruh protokol dari nol. Mereka merekrut Profesor David Mazières dari Stanford University, seorang ahli dalam bidang sistem terdistribusi, untuk menciptakan algoritma konsensus yang sepenuhnya baru. Hasilnya adalah lahirnya Stellar Consensus Protocol (SCP) pada tahun 2015. SCP menjadi titik balik krusial yang secara fundamental membedakan Stellar dari kompetitornya.
Berbeda dengan Bitcoin yang menggunakan Proof of Work (PoW) yang boros energi atau model Proof of Stake (PoS) tradisional, SCP mengandalkan konsep Federated Byzantine Agreement (FBA). Dalam sistem ini, transaksi divalidasi melalui jaringan node yang saling percaya dalam kelompok-kelompok kecil yang disebut quorum slices. Inovasi ini memungkinkan Stellar untuk mencapai konfirmasi transaksi dalam hitungan detik dengan biaya yang sangat minimal, sambil tetap menjaga tingkat desentralisasi yang sehat karena siapapun secara teoritis dapat menjalankan node di jaringan tersebut.
Perjalanan Stellar di tahun-tahun awal juga sangat dipengaruhi oleh strategi distribusinya yang unik dan kontroversial. Alih-alih melakukan Initial Coin Offering (ICO) yang bersifat komersial dan tertutup bagi investor besar, SDF memilih untuk memberikan koin aslinya, yang saat itu masih disebut "Stellar", secara gratis kepada masyarakat luas. Melalui berbagai program airdrop, koin-koin tersebut dibagikan kepada pengguna Facebook, pemegang Bitcoin, dan masyarakat di negara-negara berkembang. Strategi ini diambil untuk memastikan bahwa jaringan tersebut memiliki basis pengguna yang luas dan merata sejak dini, sejalan dengan misi kemanusiaan untuk memerangi kemiskinan dan meningkatkan inklusi keuangan.
Namun, penggunaan nama yang sama untuk jaringan, organisasi, dan mata uang digitalnya seringkali menimbulkan kebingungan di pasar. Oleh karena itu, pada tahun 2015, SDF secara resmi melakukan perubahan identitas dengan menamai aset digital aslinya sebagai "Lumens" dengan simbol ticker XLM. Perubahan ini menandai fase kedewasaan Stellar di mana mereka mulai memposisikan diri sebagai platform yang lebih profesional dan siap untuk adopsi massal.
Stellar mulai menarik perhatian banyak pemain besar di industri teknologi dan keuangan tradisional. Salah satu tonggak sejarah terbesar dalam linimasa Stellar adalah kolaborasi strategis dengan raksasa teknologi IBM pada tahun 2017. Melalui proyek yang dikenal sebagai IBM World Wire, teknologi Stellar digunakan untuk membangun jaringan pembayaran global yang memungkinkan penyelesaian transaksi lintas batas secara real-time dalam berbagai mata uang. Kemitraan ini memberikan validasi besar bagi Stellar, membuktikan bahwa protokol mereka bukan sekadar eksperimen akademis, melainkan solusi dunia nyata yang mampu menangani beban kerja institusional.
Selain IBM, perusahaan konsultan global Deloitte juga menjalin kerja sama untuk mengintegrasikan teknologi Stellar ke dalam solusi perbankan mereka. Fokus Stellar pada kepatuhan regulasi dan kemudahan integrasi membuat mereka sering disebut sebagai "jembatan" yang paling masuk akal antara dunia keuangan tradisional (TradFi) dan dunia keuangan terdesentralisasi (DeFi).
Keunggulan teknis unik lainnya dari Stellar adalah adanya bursa desentralisasi internal atau Decentralized Exchange (DEX) yang tertanam langsung di dalam protokolnya. Sejak awal, Stellar dirancang bukan hanya untuk mengirim Lumens, tetapi untuk menjadi protokol "agnostik aset". Artinya, siapa pun dapat menerbitkan token di jaringan Stellar yang mewakili mata uang fiat (seperti Dollar, Euro, atau Rupiah), komoditas (seperti emas), atau aset digital lainnya.
Fitur yang disebut Path Payments memungkinkan pengguna untuk mengirim satu jenis mata uang dan secara otomatis mengonversinya menjadi mata uang lain yang diinginkan penerima dalam satu rangkaian transaksi yang mulus. Misalnya, seorang pekerja migran di Eropa dapat mengirim Euro, dan keluarganya di Indonesia dapat menerima Rupiah secara instan karena sistem secara otomatis mencari penawaran terbaik di DEX internal Stellar untuk melakukan konversi tersebut. Kemampuan ini menjadikan XLM berperan sangat vital sebagai aset perantara atau "pelumas" likuiditas yang menghubungkan berbagai aset yang berbeda di dalam ekosistem.
Memasuki tahun 2019, Stellar mengambil keputusan yang sangat mengejutkan pasar kripto global. Dalam sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi proyek skala besar, Stellar Development Foundation mengumumkan bahwa mereka telah membakar (burn) sekitar 55 miliar koin XLM, yang merupakan lebih dari setengah dari total pasokan yang ada saat itu. Keputusan ini diambil setelah evaluasi mendalam bahwa pasokan awal yang terlalu besar justru menghambat efisiensi distribusi dan pertumbuhan ekosistem.
Dengan mengurangi jumlah koin yang beredar secara drastis, SDF bermaksud untuk merampingkan operasional mereka dan memastikan bahwa sisa koin yang mereka pegang benar-benar digunakan untuk pengembangan jaringan secara lebih terukur. Pada tahun yang sama, Stellar juga memutuskan untuk menghapus mekanisme inflasi tahunan sebesar 1% yang selama ini ada dalam protokolnya, karena data menunjukkan bahwa fitur tersebut tidak memberikan manfaat distribusi yang signifikan bagi komunitas dan justru menambah kompleksitas teknis.
Kemitraan Stellar terus berkembang ke arah yang lebih fundamental bagi sistem keuangan global. Salah satu pencapaian yang paling mencolok dalam beberapa tahun terakhir adalah kerja sama dengan MoneyGram International. Setelah putusnya hubungan MoneyGram dengan Ripple akibat masalah hukum Ripple dengan SEC, MoneyGram beralih ke Stellar untuk membangun layanan inovatif yang memungkinkan pengguna mengubah uang tunai menjadi aset digital (seperti koin stabil USDC) dan sebaliknya di ribuan lokasi fisik mereka di seluruh dunia. Langkah ini merupakan perwujudan nyata dari visi inklusi keuangan Stellar, di mana orang-orang yang tidak memiliki rekening bank dapat masuk ke dunia ekonomi digital hanya dengan membawa uang tunai ke agen lokal.
Selain itu, Stellar juga mulai merambah ke sektor mata uang digital bank sentral atau Central Bank Digital Currency (CBDC). Pemerintah Ukraina, misalnya, memilih Stellar sebagai mitra platform untuk merintis pengembangan mata uang digital nasional mereka, yang menunjukkan tingkat kepercayaan tinggi otoritas negara terhadap keamanan dan skalabilitas protokol Stellar.
Inovasi terbaru dalam sejarah Stellar adalah peluncuran platform kontrak pintar (smart contract) yang diberi nama Soroban pada tahun 2024. Selama bertahun-tahun, Stellar dikenal sebagai jaringan yang cepat dan murah namun memiliki fungsionalitas terbatas dibandingkan dengan Ethereum. Dengan hadirnya Soroban, Stellar kini memungkinkan para pengembang untuk membangun aplikasi terdesentralisasi (dApps) yang kompleks, mulai dari protokol peminjaman hingga platform asuransi, tanpa mengorbankan kecepatan dan biaya rendah yang menjadi ciri khasnya. Soroban dirancang menggunakan bahasa pemrograman Rust dan WebAssembly (Wasm), memberikan lingkungan yang aman dan efisien bagi pengembang modern.
Langkah ini menandai era baru bagi Stellar, di mana mereka tidak lagi hanya menjadi jaringan pembayaran, tetapi berkembang menjadi ekosistem keuangan yang lengkap dan dapat diprogram secara penuh.
