USDR tercipta dari sebuah visi yang digagas oleh tim di balik Tangible DAO, sebuah protokol yang bertujuan untuk melakukan tokenisasi pada aset fisik seperti real estat, emas, jam tangan mewah, dan minuman anggur langka. Pada awal kemunculannya sekitar tahun 2022, pasar kripto sedang mencari alternatif yang lebih produktif dibandingkan stablecoin tradisional seperti USDT atau USDC yang hanya memberikan imbal hasil rendah. Sehingga USDR hadir sebagai solusi inovatif dengan konsep stablecoin "rebase" yang dipatok satu banding satu dengan Dollar AS, namun didukung oleh real estat yang menghasilkan sewa.
Ini adalah langkah yang sangat berani karena real estat secara tradisional dianggap sebagai aset yang tidak likuid, sementara stablecoin menuntut likuiditas tinggi untuk menjaga pasaknya. Para pengembang USDR percaya bahwa dengan menggunakan NFT (Non-Fungible Tokens) yang mewakili kepemilikan properti, mereka bisa menciptakan arus kas otomatis bagi para pemegang token. Setiap bulan, hasil sewa dari properti yang dikelola oleh Tangible akan dikonversi menjadi USDR tambahan yang didistribusikan langsung ke dompet pengguna, menciptakan apa yang disebut sebagai imbal hasil riil di tengah ekosistem yang sering kali didominasi oleh skema insentif yang tidak berkelanjutan.
Keunikan USDR terletak pada struktur perbendaharaannya yang kompleks namun transparan pada awalnya. Tidak seperti stablecoin algoritmik yang hanya mengandalkan kode dan teori permainan, USDR memiliki cadangan yang terdiri dari campuran aset. Porsi terbesar adalah real estat fisik yang disewakan, sementara sisanya terdiri dari stablecoin lain seperti DAI sebagai bantalan likuiditas, serta token tata kelola protokol itu sendiri. Kepercayaan investor mulai tumbuh pesat karena narasi "Real World Assets" (RWA) menjadi tema utama dalam evolusi blockchain.
Selama berbulan-bulan, USDR berhasil mempertahankan pasaknya dengan sangat baik, memberikan imbal hasil sekitar 8% hingga 15% per tahun, yang menjadikannya primadona bagi para petani imbal hasil (yield farmers) di jaringan Polygon. Keberhasilan ini membawa kapitalisasi pasar USDR meroket hingga mencapai puluhan juta dolar dalam waktu singkat, memperkuat posisi Tangible sebagai pemimpin dalam sektor tokenisasi properti.
Namun, sejarah keuangan sering kali mengulang pelajaran yang sama tentang ketidaksesuaian likuiditas (liquidity mismatch). Masalah mulai muncul ke permukaan ketika komposisi cadangan USDR menjadi terlalu condong ke arah real estat yang sulit dijual dengan cepat. Dalam sistem perbankan tradisional, ini mirip dengan bank yang meminjamkan semua uang simpanannya untuk kredit perumahan jangka panjang tanpa menyisakan cukup uang tunai di brankas untuk penarikan harian.
Pada Oktober 2023, sebuah peristiwa dramatis mengguncang ekosistem USDR. Gelombang penarikan besar-besaran terjadi secara tiba-tiba, dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap stabilitas aset pendukungnya. Ketika para pengguna mencoba menukar USDR mereka kembali ke stablecoin lain yang lebih cair seperti DAI, cadangan likuid dalam perbendaharaan Tangible habis dalam hitungan jam. Karena sebagian besar nilai USDR terkunci dalam bentuk rumah dan apartemen fisik di Inggris dan wilayah lainnya, protokol tidak bisa menjual properti tersebut secepat klik tombol untuk memenuhi permintaan penarikan.
Akibatnya, pada tanggal 11 Oktober 2023, pasak USDR runtuh secara drastis. Nilainya jatuh dari 1 dolar menjadi sekitar 50 sen dalam waktu yang sangat singkat, memicu kepanikan di seluruh komunitas DeFi. Peristiwa ini menjadi berita utama di berbagai media keuangan kripto karena menyoroti risiko inheren dari penggunaan aset yang tidak likuid sebagai jaminan untuk mata uang digital yang seharusnya stabil. Tim Tangible segera bereaksi dengan menghentikan sementara fungsi penukaran dan mengeluarkan pernyataan resmi yang menjelaskan bahwa meskipun nilai aset properti mereka tetap utuh secara penilaian, kecepatan likuidasi aset tersebut adalah hambatan utamanya. Mereka mulai merancang rencana pemulihan yang melibatkan likuidasi properti secara bertahap dan peluncuran "Basket" token, sebuah mekanisme baru untuk mengembalikan nilai kepada para pemegang USDR yang terdampak melalui kepemilikan pecahan atas portofolio properti tersebut.
Pasca kegagalan pasak tersebut, sejarah USDR memasuki babak baru yang penuh dengan restrukturisasi. Komunitas dipaksa untuk belajar bahwa transparansi on-chain saja tidak cukup jika aset dasarnya tidak dapat bergerak secepat data digital. Meskipun demikian, kegagalan USDR tidak dianggap sebagai penipuan atau skema Ponzi oleh mayoritas pengamat teknis, melainkan sebuah kesalahan desain ekonomi dalam manajemen risiko likuiditas. Kejadian ini justru mempercepat diskusi di tingkat global mengenai standar keamanan untuk RWA. Para pengembang di seluruh dunia mulai melihat USDR sebagai studi kasus penting tentang mengapa stablecoin yang didukung aset fisik memerlukan rasio cadangan kas yang jauh lebih besar atau mekanisme penebusan yang lebih lambat agar selaras dengan waktu penjualan aset fisik.
Hingga saat ini jejak USDR masih tersisa dalam bentuk upaya kompensasi yang terus dilakukan oleh tim Tangible. Mereka berusaha menjual properti yang mereka miliki untuk memberikan pengembalian kepada pengguna, sebuah proses yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun karena sifat pasar properti tradisional. Transformasi dari USDR ke model "Basket" menunjukkan pergeseran dari konsep mata uang stabil menjadi instrumen investasi berbasis aset. Ini menandai berakhirnya ambisi USDR sebagai alat tukar harian, namun memulai eksperimen baru tentang bagaimana investasi properti dapat didemokratisasi melalui tokenisasi tanpa beban harus selalu stabil terhadap dolar setiap detiknya.
